Seorang ayah mengingatkan putranya untuk segera belajar ,sementara dirinya asyik menonton televisi. Seorang ibu membatasi anaknya bermain gawai sementara ia tak pernah melepaskan gawai dari tangannya. Seorang Pimpinan mewajibkan bawahannya datang sebelum jam tujuh, sementara Pemimpin tersebut sendiri selalu datang di atas jam delapan. Mengatur orang lain, mengabaikan diri sendiri. Hal ini mungkin lebih mudah dilakukan karena "Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak".
Orang
cenderung suka melihat, menilai, mengatur dan menuntut orang lain namun lupa
mengatur dirinya sendiri. Memperhatikan orang lain untuk kemudian memberikan
penilaian, hingga lupa mengerjakan bagiannya yang juga dapat dinilai. Kepada
Titus, Paulus berpesan supaya ia menjadikan dirinya teladan dalam kebaikan.
Sebagai seorang Pengajar, Titus tidak boleh lupa mendidik
dirinya sendiri dan ini harus dapat diperhatikan di dalam hidupnya. Ia harus dapat
memperlihatkan gambaran hidup tentang kebenaran
melalui hidupnya, sebagaimana yang ia harapkan terjadi pada jemaat
melakukan kebenaran yang sesuai firman Tuhan.
Melalui
kemurnian dan kehormatan Titus, juga melalui kesederhanaan dan hidupnya yang
baik tentu jemaat akan lebih mudah dimenangkan dan menerapkan hal yang sama
dalam kehidupan mereka. Setiap orang percaya adalah saksi-saksi Kristus,
sehingga hidupnya pun harus menjadi teladan.
Kita
sebagai anak Tuhan juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menyatakan
kemuliaan Allah: menjadi setia, saleh, kudus, bijaksana dan berbudi. Ketika
hidup orang percaya melakukan kebenaran, mengikuti pola ajaran yang sehat,
penyesat tidak dapat menemukan aib yang dapat menjerumuskan jemaat.
KESAKSIAN KITA AKAN KASIH, KEBENARAN DAN KESELAMATAN KRISTUS
AKAN DIPERCAYA JIKA KITA HIDUP DI DALAMNYA.
Komentar
Posting Komentar